Jakarta, MetalNews Digital – Harga emas fisik pada platform Bursa Emas Fisik JFXGOLD X mencatatkan penguatan signifikan pada perdagangan Jumat (6/11/2026). Harganya naik 4,83% atau sekitar Rp. 97.179 per gram dibandingkan perdagangan sebelumnya. Kenaikan tersebut membawa harga emas fisik JFXGOLD X mencapai US$4.134,68 per troy ounce atau setara Rp2.441.866 per gram.
Penguatan harga emas fisik JFXGOLD X sejalan dengan tren positif harga emas di pasar global. Setelah sempat mengalami tekanan hingga menyentuh US$ 3.869,85 per Troy Ounce pada Jumat pekan sebelumnya, harga emas dunia kembali menguat dan menembus level US$ 4.100 per Troy Ounce.
Mengutip laporan Reuters, harga emas spot pada perdagangan Kamis (5/11/2026) naik sekitar 1% menjadi US$ 4.100,27 per Troy Ounce. Dalam perdagangan tersebut, harga emas bahkan sempat menyentuh US$ 4.146,63 per troy ounce, level tertinggi dalam lebih dari dua pekan.
Penguatan tersebut melanjutkan reli yang terjadi sehari sebelumnya. Pada Rabu (4/11/2026), harga emas melonjak hampir 3,4%, mencatatkan kenaikan harian terbesar sejak 19 Agustus 2026. Secara keseluruhan, harga emas telah menguat lebih dari US$ 250 sepanjang pekan tersebut.
Dolar AS Melemah, Menjadi Pendorong Penguatan Emas
Salah satu faktor yang mendorong kenaikan harga emas global adalah pelemahan dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi ini membuat emas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar menjadi relatif lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang lain.
Selain itu, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS turut menopang harga emas. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bergerak mendekati level terendah dalam hampir dua bulan.
Penurunan imbal hasil obligasi meningkatkan daya tarik emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil berupa bunga. Dengan demikian, ketika imbal hasil obligasi menurun, biaya peluang untuk memegang emas juga menjadi lebih rendah.
Di sisi lain, penurunan harga minyak turut meredakan kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi. Perkembangan tersebut ikut mempengaruhi ekspektasi pelaku pasar terhadap arah kebijakan moneter bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).
Pasar Menanti Data Tenaga Kerja AS
Meskipun harga emas kembali menguat, pelaku pasar masih mencermati sejumlah indikator ekonomi yang berpotensi mempengaruhi pergerakan logam mulia tersebut.
Salah satu perhatian utama tertuju pada rilis data ketenagakerjaan AS atau Nonfarm Payrolls (NFP). Data ini menjadi salah satu indikator penting untuk mengukur kondisi pasar tenaga kerja sekaligus memberikan gambaran mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed.
Ekspektasi terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed pada Desember 2026 juga masih menjadi perhatian pasar. Berdasarkan laporan Reuters pada Kamis (5/11/2026), probabilitas kenaikan suku bunga pada Desember diperkirakan mencapai sekitar 66%.
Apabila data ketenagakerjaan AS menunjukkan hasil yang lebih kuat dari perkiraan, ekspektasi kenaikan suku bunga berpotensi meningkat dan memberikan tekanan terhadap harga emas. Sebaliknya, data yang lebih lemah dapat memperkuat ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter sehingga membuka peluang bagi harga emas untuk melanjutkan penguatannya.
Ke depan, pergerakan harga emas masih akan dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi AS, pergerakan dolar, imbal hasil obligasi pemerintah, serta ekspektasi kebijakan moneter The Fed.
Pelaku pasar pun akan mencermati kemampuan harga emas untuk mempertahankan posisinya di atas US$4.000 per troy ounce di tengah dinamika ekonomi global dan ketidakpastian arah kebijakan moneter AS.
Pemantauan harga dan transaksi emas dapat dilakukan pada Platform Bursa Emas Fisik JFXGOLD X.
Disclaimer :
Informasi harga dan analisis pasar yang disampaikan bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Kondisi pasar dapat berubah sewaktu-waktu. Lakukan analisis dan pertimbangan secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.
Simak informasi lainnya hanya di MetalNews.


